sumbu.id, Militer Amerika Serikat (AS) menyatakan tetap siaga penuh di kawasan Selat Hormuz setelah Iran kembali menutup jalur pelayaran strategis tersebut pada Sabtu (20/6/2026). Langkah Teheran diambil sebagai respons atas serangan Israel di Lebanon selatan yang dinilai melanggar kesepakatan damai antara Iran dan AS.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menegaskan pasukan AS tetap berada di kawasan untuk memastikan seluruh poin kesepakatan dengan Iran dijalankan sebagaimana mestinya.
“Pasukan AS tetap hadir dan waspada untuk memastikan semua aspek perjanjian dengan Iran dipatuhi, ditaati, dan berlaku sepenuhnya,” demikian pernyataan CENTCOM.
Meski Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz, militer AS menyebut jalur pelayaran internasional masih dapat dilalui. CENTCOM mencatat sedikitnya 55 kapal komersial melintasi selat tersebut sepanjang Sabtu (20/6/2026). “Jalur aman melalui jalur air internasional tetap utuh hari ini,” tulis CENTCOM.
Sebelumnya, Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Iran mengumumkan penghentian sementara lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Teheran menilai serangan Israel ke Lebanon selatan merupakan pelanggaran terhadap kesepakatan damai yang sebelumnya dicapai dengan Washington.
“Selat Hormuz akan ditutup untuk lalu lintas kapal. Langkah ini merupakan respons atas pelanggaran janji musuh, dan jika agresi berlanjut, tindakan lanjutan akan diambil,” demikian pernyataan militer Iran yang disiarkan televisi pemerintah.
Ketegangan meningkat ketika Israel dan kelompok Hizbullah kembali terlibat bentrokan di Lebanon, meski sebelumnya Amerika Serikat telah mengumumkan gencatan senjata baru sebagai bagian dari kesepakatan regional.
Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) juga memperingatkan kapal-kapal internasional agar tidak mendekati kawasan Selat Hormuz. “Jika tidak, keamanan mereka akan terancam,” demikian peringatan IRGC.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran vital yang menjadi pintu keluar sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Jalur tersebut sempat ditutup Iran selama konflik bersenjata dengan AS dan Israel yang dimulai pada 28 Februari 2026.
Penutupan terbaru terjadi ketika Iran dan AS tengah bersiap melanjutkan pembicaraan implementasi kesepakatan damai di Swiss. Pertemuan tersebut sebelumnya dijadwalkan berlangsung pada Jumat (19/6), namun ditunda menyusul eskalasi konflik di Lebanon.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengatakan delegasi Teheran telah berangkat ke Swiss dan akan menuntut pelaksanaan komitmen yang telah disepakati. “Jika tidak, seluruh kesepahaman akan bermasalah,” ujarnya seperti dikutip media pemerintah Iran.
Di pihak Amerika Serikat, Wakil Presiden J.D. Vance menyatakan dirinya juga berencana menghadiri pembicaraan di Swiss dalam beberapa hari ke depan.
Sementara itu, utusan AS Jared Kushner dan Steve Witkoff dilaporkan telah berada di Swiss untuk menangani berbagai persoalan teknis dalam implementasi kesepakatan.
Pembicaraan tersebut diharapkan menjadi awal dari proses negosiasi selama dua bulan yang akan membahas sejumlah isu yang belum terselesaikan, termasuk program nuklir Iran serta stabilitas keamanan di kawasan Timur Tengah.
Leave a comment