sumbu.id, SOLO – Presiden ke-7 Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) menegaskan bahwa pembangunan transportasi massal menjadi langkah penting untuk menekan kerugian ekonomi negara akibat kemacetan lalu lintas di kota-kota besar.
“Di Jakarta itu kemacetan sudah parah, sudah sejak 20 tahun lalu. Jabodetabek terjadi kemacetan parah termasuk Bandung juga,” kata Jokowi di Solo, Jawa Tengah, dikutip dari Antara, Selasa (28/10/2025).
Ia memaparkan, kemacetan di Jakarta menimbulkan kerugian negara hingga Rp65 triliun per tahun, sementara di kawasan Jabodetabek dan Bandung total kerugian diperkirakan mencapai lebih dari Rp100 triliun per tahun.
Subsidi Transportasi Publik Bukan Kerugian, Tapi Investasi
Untuk mengatasi hal itu, pemerintah terus mendorong masyarakat beralih dari kendaraan pribadi ke moda transportasi umum seperti MRT, LRT, KRL, dan Kereta Cepat Whoosh. Jokowi menekankan bahwa transportasi publik harus dipandang sebagai layanan sosial, bukan proyek komersial yang mengejar keuntungan finansial.
“Transportasi massal bukan diukur dari laba, tapi dari keuntungan sosial atau social return of investment,” ujarnya.
Menurut Jokowi, keuntungan sosial tersebut meliputi pengurangan emisi karbon, peningkatan produktivitas masyarakat, penurunan polusi udara, hingga efisiensi waktu tempuh.
Ia menambahkan, subsidi yang diberikan pemerintah kepada operator transportasi publik tidak bisa dikategorikan sebagai kerugian, melainkan investasi jangka panjang untuk kesejahteraan masyarakat.
“Seperti MRT, Pemprov DKI memberikan subsidi sekitar Rp800 miliar per tahun. Kalau semua jalur sudah beroperasi, bisa mencapai Rp4,5 triliun per tahun. Itu investasi, bukan kerugian,” tegasnya.
Efek Ganda: Produktivitas, Pariwisata, dan Ekonomi
Jokowi menyebut, sejak awal beroperasi sejumlah moda transportasi massal telah menunjukkan hasil positif. MRT Jakarta berhasil mengangkut 171 juta penumpang, sedangkan Kereta Cepat Whoosh mencatatkan sekitar 12 juta penumpang dengan rata-rata 19 ribu orang per hari.
“Perpindahan dari mobil pribadi ke transportasi umum memang tidak mudah, tapi kita sudah melihat hasilnya secara bertahap,” ujar Jokowi.
Ia juga menyoroti efek ganda yang ditimbulkan sektor transportasi publik terhadap pertumbuhan ekonomi, terutama di wilayah sekitar jalur transportasi. “Di Bandung, dengan adanya Whoosh, pariwisata meningkat dan nilai properti ikut naik. Itu contoh nyata dampak ekonominya,” tambah Jokowi.
Menurutnya, semakin banyak masyarakat yang beralih menggunakan transportasi umum, kerugian akibat kemacetan akan terus menurun. Pemerintah memperkirakan, dalam enam tahun ke depan, potensi kerugian tersebut bisa ditekan secara signifikan.
Leave a comment